<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>achaistyping</title>
    <link>https://achaistyping.writeas.com/</link>
    <description>A writer of Ohm Nanon Alternative Universe. @achaistyping on twitter.</description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 14:37:38 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>The Last.</title>
      <link>https://achaistyping.writeas.com/the-last?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Last.&#xA;&#xA;Sesuai janjinya, Andovy datang menjemput Jericho. Tangannya berkeringat, senyumnya kikuk, menerawang entah apa yang akan ia hadapi nanti. Apakah caci dan makian dari Jericho? Atau hal-hal lain yang lebih buruk? Yang jelas Andovy tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya ini. Kesempatan yang mungkin bisa merubah nasib hubungan mereka berdua menjadi lebih baik.&#xA;&#xA;Ketika Andovy melihat Jericho keluar dari rumahnya dan berjalan ke arahnya, ia langsung merapihkan bajunya. Tersenyum sehangat mungkin walaupun tak mendapatkan balasan yang sama manisnya.&#xA;&#xA;Andovy menatap Jericho yang kini berada di hadapannya lalu menyerahkan buket bunga tulip yang sedari tadi ia genggam pada Jericho. &#34;Selamat ya, maaf aku baru kasih hadiah sekarang. Sebenarnya aku beli juga kemarin, cuma bunganya layu jadinya aku beli lagi yang baru, hehe.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayo jalan sekarang, keburu kemaleman.&#34; Suara dingin Jericho membuat senyum Andovy memudar namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya, tak ingin ini semua berantakan. Bagaimanapun ia pantas mendapat respon seperti itu dari seseorang yang masih menjadi kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;I-iya, ayo sayang.&#34; Andovy buru-buru membuka pintu mobil dan mempersilahkan Jericho masuk.&#xA;&#xA;Setelah ia menutup pintu mobil, Andovy berlari untuk ikut masuk dan duduk di belakang kemudi. Saat ia hendak memasangkan seatbelt untuk Jericho, secepat itu juga Jericho menarik seatbelt dan memasangnya sendiri tanpa menoleh dan menatap Andovy.&#xA;&#xA;Lagi dan lagi senyum pahit terpatri di wajah tampan Andovy, ia kecewa, namun ia tahu bahwa rasa kecewa Jericho lebih besar lagi dari ini.&#xA;&#xA;Perjalanan menuju cafe nampak senggang walaupun dijam sibuk, keadaan di dalam mobil-pun sunyi sepi. Baik Jericho maupun Andovy tak ada yang memulai obrolan.&#xA;&#xA;Jericho menatap buket bunga di pangkuannya, sedang pikirannya berisik. Harusnya ia bahagia bukan? Harusnya ia berterima kasih. Namun tiap kali memikirkannya, dadanya kembali sakit, sesak bahkan mual. Ternyata Andovy tak hanya menyakiti hatinya, namun juga mentalnya.&#xA;&#xA;Di dalam buket itu ada sepucuk surat bertuliskan &#39;Congratulation, love! You are amazing, I love you to the moon and back!&#39;&#xA;&#xA;Tak terasa air matanya jatuh namun buru-buru ia seka. Tak ingin terlihat lemah di depan Andovy.&#xA;&#xA;&#34;Kita mau ke mana dulu nih? Mau nonton sama aku?&#34; Pertanyaan Andovy terdengar dan langsung dijawab gelengan oleh Jericho.&#xA;&#xA;&#34;Langsung ke cafe aja.&#34;&#xA;&#xA;Sebelumnya Jericho tak pernah sesingkat ini menjawab pertanyaannya.&#xA;&#xA;&#39;Ovy, apa yang lo lakuin! Lo udah nyakitin dia!&#39;&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Makanan yang disuguhkan kini telah habis seluruhnya, Andovy dan Jericho makan dengan suasana dingin walaupun lilin malam menyala di tengah-tengah mereka.&#xA;&#xA;Setelah menyeruput kopinya, Jericho menarik napas panjang nan dalam lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya hari ini tiba juga, hari yang sebetulnya sangat ditakuti Jericho.&#xA;&#xA;&#34;Jadi dia udah kembali ya? Tugasku udah selesai?&#34; Tidak, akan lebih baik bagi Andovy mendengar caci maki dari Jericho daripada mendengar suara lirih menyayat hati itu. Lebih baik ia diteriaki, kalau perlu pukul saja Andovy.&#xA;&#xA;&#34;Gak, gak ada yang kembali. Adanya kamu, kamu gak akan terganti. Maafin aku, aku... Aku khilaf, aku gak bermaksud buat mainin kamu, gak ada sama sekali, sayang. Aku bener-bener sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Jericho sekuat tenaga menahan amarah, sedih, kecewa yang berkecamuk dalam hatinya. Dengan suara lirih, ia kembali berbicara. &#34;Apa selama kamu menghilang, kamu bersama dia? Hari dimana kamu gak dateng dinner waktu itu, kamu juga lagi sama dia? Urusan mendadak yang bikin kamu lupain aku juga.. Apa itu karena dia?&#34;&#xA;&#xA;Jericho menatap Andovy dengan berkaca-kaca. Hatinya berteriak &#39;Please, jawab enggak. Kamu tahu kalau kamu bohongpun aku akan tetep percaya kamu.&#39;&#xA;&#xA;Namun yang ia dapatkan adalah anggukan lemah dari Andovy, dan seketika air matanya jatuh.&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku, Iko.. Maaf.. Aku tau aku bodoh, aku tolol udah ngelakuin itu semua ke kamu. Aku minta maaf.&#34; Wajah sedih itu terangkat dari tunduknya, tangannya terulur untuk meraih jemari Jericho namun dengan cepat pula Jericho menarik tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Did you sleep with her?&#34;&#xA;&#xA;Untuk terakhir kalinya Jericho berharap bahwa jawabannya adalah tidak.&#xA;&#xA;&#34;Iko... Sayang..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Please... Did you?&#34;&#xA;&#xA;Keringat dingin membasahi tangannya yang sedari tadi ia genggam erat, bibirnya ia gigit demi menahan air mata yang terus memaksa keluar. Detik demi detik terasa melambat saat ia menunggu jawaban terakhir dari kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m so sorry..&#34; Andovy kembali menundukkan wajahnya tak berani menatap Jericho yang memandangnya dengan penuh kecewa.&#xA;&#xA;&#34;I DON&#39;T NEED YOUR SORRY! JUST ANSWER ME!&#34; Teriakan Jericho akhirnya lepas, beruntung mereka berada di dalam ruang VVIP yang artinya tak ada orang lain selain mereka.&#xA;&#xA;&#34;Yes.. I slept with her. I&#39;m sorry, Iko. Aku bener-bener khilaf. Aku sadar itu semua dan aku berusaha buat akhirin semuanya, aku gak mau sama dia. Yang aku mau cuma sama kamu, tapi cewek itu terus maksa aku.&#34; Runtuh sudah dunianya.&#xA;&#xA;&#34;Dan kamu korbanin aku demi dia? Kamu khianatin aku, kamu sakitin hati aku demi perempuan itu, Ovy!&#34; Sesak rasanya berbicara dengan penuh air mata.&#xA;&#xA;&#34;Memang di sini aku yang bodoh. Seharusnya dari awal aku sadar kalau orang yang belum selesai sama masa lalunya gak akan pernah bisa menghargai apa yang dia punya saat ini. Berkali-kali kamu bohongin aku, aku tetep percaya! Selama ini aku bertanya-tanya ke diri aku sendiri, aku kurang apa sama kamu, apa aku ada salah? Apa aku yang terlalu meragukan kamu? Aku percaya sama semua omongan kamu yang ternyata bullshit.&#34;&#xA;&#xA;Yang Jericho rasakan saat ini hanya mual karena emosi yang terus membuncah. Sesungguhnya ia tidak pernah sanggup untuk menghadapi ini semua.&#xA;&#xA;&#34;Ternyata aku selalu kurang di mata kamu, ternyata aku belum begitu penting di hidup kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenyataannya, aku kalah. Aku kalah dengan masa lalu kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;No! No, no, no, aku gak cinta sama sekali sama dia, kamu satu-satunya orang yang berarti di hidup aku Iko. Tolong, for the last time, believe me. Aku rela berkorban apa aja demi kamu, Iko.&#34;&#xA;&#xA;Andovy beranjak dari duduknya secepat kilat, bersimpuh di dadapan Jericho, menggenggam tangannya erat sambil menangis di sana. Sungguh ia tak ingin kehilangan kecintaannya.&#xA;&#xA;&#34;Apa yang bisa dia kasih tapi aku enggak, Vy?&#34;&#xA;&#xA;Tak ada jawaban, hanya isakan Andovy serta gelengan ribut yang ia dapatkan sementara tangannya semankin erat digenggam.&#xA;&#xA;&#34;Anak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;No! I don&#39;t give a shit about that, I love you, dan itu cukup buat aku!&#34; Andovy semakin frustasi.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kenyataannya aku masih belum cukup untuk kamu.&#34;&#xA;&#xA;Kenyataan Andovy selingkuh dibelakangnya membuat dirinya begitu hancur hingga berkeping-keping,m.&#xA;&#xA;&#34;You know I love you, Vy-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya I knew it, so please just stay, I beg you, Iko. I can&#39;t love anyone else but you, please..&#34; Isakan tangis keduanya bersahutan memenuhi ruangan ini.&#xA;&#xA;Keduanya masih larut dalam takut selama beberapa menit hingga akhirnya satu tangan Jericho terangkat dan mendarat di atas kepala Andovy, seketika Andovy-pun menatapnya.&#xA;&#xA;&#34;I love you, but I&#39;m letting go-&#34;&#xA;&#xA;&#34;No.. Please..&#34; Andovy semakin gelisah di bawah sana.&#xA;&#xA;&#34;Aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa lagi. Setiap lihat kamu aku sakit, setiap lihat kamu aku gak bisa kendaliin pikiran aku dari hal-hal buruk. Aku gak bisa kendaliin bagaimana otakku membuat skenario ketika kamu bersama perempuan itu, ketika kamu mengkhianati aku, semuanya ada di otak aku, bayangan bagaimana kamu sama perempuan itu... Aku sakit, Vy, dan aku gak bisa.&#34; Jericho menggelengkan kepalanya seola bayangan di pikirannya bisa hilang dengan itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku gak akan bisa bersikap seperti gak terjadi apapun kedepannya kalau kita terus sama-sama dan kamu pasti akan tersiksa dengan rasa bersalah kamu. Pada akhirnya kita berdua akan terluka terus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak, gak, Iko. Aku yakin itu gak akan terjadi. Aku gak akan bisa tanpa kamu, aku gak tau apa jadinya aku kalau kamu pergi dari hidup aku. Aku mohon jangan tinggalin aku. Apapun akan aku lakuin, asal kamu gak tinggalin aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hidup kamu akan terus berjalan, dengan atau tanpa aku.&#34;&#xA;&#xA;Jericho menarik tangannya dari genggaman Andovy lalu menyeka air mata yang membanjiri wajah lelaki tersebut. Menatap Andovy dengan penuh cinta sekaligus rasa sakit yang tak terbendung.&#xA;&#xA;&#34;I love you, Ovy, I really do. Kamu harus tetep hidup untuk dirimu sendiri, ya? Setelah ini jangan pernah cari aku, kamu harus hidup dengan baik. Jangan lupa baikan juga sama Diora, hehe. Dia temen yang baik, jangan sampai kamu kehilangan dia seperti kamu kehilangan aku.&#34; Jericho berusaha berbicara sehalus mungkin untuk menenangkan Andovy yang semakin kalut.&#xA;&#xA;Andovy benar-benar tak sanggup berbicara sepatah katapun, ia terisak semakin hebat di hadapan Jericho. Dan setelah itu Jericho bangkit dari duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Aku pergi ya.&#34; Jericho melangkahkan kakinya menjauh dari cintanya, menjauh dari alasannya hidup dengan langkah gontai yang sebetulnya berat.&#xA;&#xA;Keinginan untuk berbalik dan berlari ke pelukan lelaki itu sangat besar, keinginan untuk mengucapkan kata &#39;Aku gak apa-apa&#39; dan &#39;Kita mulai dari awal lagi, ya?&#39; Ingin sekali ia utarakan. Namun ia tahu, hati yang sakit jika dipaksakan untuk terus memeluk tidak akan indah akhirnya. Jadi ia memutuskan untuk melepas pelukan itu dan menyembuhkan hatinya sendirian.&#xA;&#xA;Jericho keluar dari ruang itu dan menutup pintu tersebut, baru beberapa langkah ia menjauh, sebuah suara memanggilnya.&#xA;&#xA;&#34;Iko?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Van...&#34; Tangisnya kembali pecah di lorong cafe ketika melihat Revan di depannya.&#xA;&#xA;&#34;Hey, I&#39;m here.&#34; Tanpa pikir panjang Revan langsung memeluk Jericho dengan erat. Diusapnya punggung bergetar itu untuk menenangkan temannya.&#xA;&#xA;&#34;Gue anter pulang ya?&#34;&#xA;&#xA;Jericho hanya mengangguk, karena tenaganya sudah habis. Ia juga tidak bisa pulang bersama Andovy kan?&#xA;&#xA;Seseorang yang kini menjadi mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;—]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="the-last" id="the-last">The Last.</h2>

<p>Sesuai janjinya, Andovy datang menjemput Jericho. Tangannya berkeringat, senyumnya kikuk, menerawang entah apa yang akan ia hadapi nanti. Apakah caci dan makian dari Jericho? Atau hal-hal lain yang lebih buruk? Yang jelas Andovy tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya ini. Kesempatan yang mungkin bisa merubah nasib hubungan mereka berdua menjadi lebih baik.</p>

<p>Ketika Andovy melihat Jericho keluar dari rumahnya dan berjalan ke arahnya, ia langsung merapihkan bajunya. Tersenyum sehangat mungkin walaupun tak mendapatkan balasan yang sama manisnya.</p>

<p>Andovy menatap Jericho yang kini berada di hadapannya lalu menyerahkan buket bunga tulip yang sedari tadi ia genggam pada Jericho. “Selamat ya, maaf aku baru kasih hadiah sekarang. Sebenarnya aku beli juga kemarin, cuma bunganya layu jadinya aku beli lagi yang baru, hehe.”</p>

<p>“Ayo jalan sekarang, keburu kemaleman.” Suara dingin Jericho membuat senyum Andovy memudar namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya, tak ingin ini semua berantakan. Bagaimanapun ia pantas mendapat respon seperti itu dari seseorang yang masih menjadi kekasihnya.</p>

<p>“I-iya, ayo sayang.” Andovy buru-buru membuka pintu mobil dan mempersilahkan Jericho masuk.</p>

<p>Setelah ia menutup pintu mobil, Andovy berlari untuk ikut masuk dan duduk di belakang kemudi. Saat ia hendak memasangkan seatbelt untuk Jericho, secepat itu juga Jericho menarik seatbelt dan memasangnya sendiri tanpa menoleh dan menatap Andovy.</p>

<p>Lagi dan lagi senyum pahit terpatri di wajah tampan Andovy, ia kecewa, namun ia tahu bahwa rasa kecewa Jericho lebih besar lagi dari ini.</p>

<p>Perjalanan menuju cafe nampak senggang walaupun dijam sibuk, keadaan di dalam mobil-pun sunyi sepi. Baik Jericho maupun Andovy tak ada yang memulai obrolan.</p>

<p>Jericho menatap buket bunga di pangkuannya, sedang pikirannya berisik. Harusnya ia bahagia bukan? Harusnya ia berterima kasih. Namun tiap kali memikirkannya, dadanya kembali sakit, sesak bahkan mual. Ternyata Andovy tak hanya menyakiti hatinya, namun juga mentalnya.</p>

<p>Di dalam buket itu ada sepucuk surat bertuliskan <em>&#39;Congratulation, love! You are amazing, I love you to the moon and back!&#39;</em></p>

<p>Tak terasa air matanya jatuh namun buru-buru ia seka. Tak ingin terlihat lemah di depan Andovy.</p>

<p>“Kita mau ke mana dulu nih? Mau nonton sama aku?” Pertanyaan Andovy terdengar dan langsung dijawab gelengan oleh Jericho.</p>

<p>“Langsung ke cafe aja.”</p>

<p>Sebelumnya Jericho tak pernah sesingkat ini menjawab pertanyaannya.</p>

<p><em>&#39;Ovy, apa yang lo lakuin! Lo udah nyakitin dia!&#39;</em></p>

<p>.
.
.
.
.</p>

<p>Makanan yang disuguhkan kini telah habis seluruhnya, Andovy dan Jericho makan dengan suasana dingin walaupun lilin malam menyala di tengah-tengah mereka.</p>

<p>Setelah menyeruput kopinya, Jericho menarik napas panjang nan dalam lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya hari ini tiba juga, hari yang sebetulnya sangat ditakuti Jericho.</p>

<p>“Jadi dia udah kembali ya? Tugasku udah selesai?” Tidak, akan lebih baik bagi Andovy mendengar caci maki dari Jericho daripada mendengar suara lirih menyayat hati itu. Lebih baik ia diteriaki, kalau perlu pukul saja Andovy.</p>

<p>“Gak, gak ada yang kembali. Adanya kamu, kamu gak akan terganti. Maafin aku, aku... Aku khilaf, aku gak bermaksud buat mainin kamu, gak ada sama sekali, sayang. Aku bener-bener sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.”</p>

<p>Jericho sekuat tenaga menahan amarah, sedih, kecewa yang berkecamuk dalam hatinya. Dengan suara lirih, ia kembali berbicara. “Apa selama kamu menghilang, kamu bersama dia? Hari dimana kamu gak dateng dinner waktu itu, kamu juga lagi sama dia? Urusan mendadak yang bikin kamu lupain aku juga.. Apa itu karena dia?”</p>

<p>Jericho menatap Andovy dengan berkaca-kaca. Hatinya berteriak <em>&#39;Please, jawab enggak. Kamu tahu kalau kamu bohongpun aku akan tetep percaya kamu.&#39;</em></p>

<p>Namun yang ia dapatkan adalah anggukan lemah dari Andovy, dan seketika air matanya jatuh.</p>

<p>“Maafin aku, Iko.. Maaf.. Aku tau aku bodoh, aku tolol udah ngelakuin itu semua ke kamu. Aku minta maaf.” Wajah sedih itu terangkat dari tunduknya, tangannya terulur untuk meraih jemari Jericho namun dengan cepat pula Jericho menarik tangannya.</p>

<p>“Did you sleep with her?”</p>

<p>Untuk terakhir kalinya Jericho berharap bahwa jawabannya adalah tidak.</p>

<p>“Iko... Sayang..”</p>

<p>“Please... Did you?”</p>

<p>Keringat dingin membasahi tangannya yang sedari tadi ia genggam erat, bibirnya ia gigit demi menahan air mata yang terus memaksa keluar. Detik demi detik terasa melambat saat ia menunggu jawaban terakhir dari kekasihnya.</p>

<p>“I&#39;m so sorry..” Andovy kembali menundukkan wajahnya tak berani menatap Jericho yang memandangnya dengan penuh kecewa.</p>

<p>“I DON&#39;T NEED YOUR SORRY! JUST ANSWER ME!” Teriakan Jericho akhirnya lepas, beruntung mereka berada di dalam ruang VVIP yang artinya tak ada orang lain selain mereka.</p>

<p>“Yes.. I slept with her. I&#39;m sorry, Iko. Aku bener-bener khilaf. Aku sadar itu semua dan aku berusaha buat akhirin semuanya, aku gak mau sama dia. Yang aku mau cuma sama kamu, tapi cewek itu terus maksa aku.” Runtuh sudah dunianya.</p>

<p>“Dan kamu korbanin aku demi dia? Kamu khianatin aku, kamu sakitin hati aku demi perempuan itu, Ovy!” Sesak rasanya berbicara dengan penuh air mata.</p>

<p>“Memang di sini aku yang bodoh. Seharusnya dari awal aku sadar kalau orang yang belum selesai sama masa lalunya gak akan pernah bisa menghargai apa yang dia punya saat ini. Berkali-kali kamu bohongin aku, aku tetep percaya! Selama ini aku bertanya-tanya ke diri aku sendiri, aku kurang apa sama kamu, apa aku ada salah? Apa aku yang terlalu meragukan kamu? Aku percaya sama semua omongan kamu yang ternyata bullshit.”</p>

<p>Yang Jericho rasakan saat ini hanya mual karena emosi yang terus membuncah. Sesungguhnya ia tidak pernah sanggup untuk menghadapi ini semua.</p>

<p>“Ternyata aku selalu kurang di mata kamu, ternyata aku belum begitu penting di hidup kamu.”</p>

<p>“Kenyataannya, aku kalah. Aku kalah dengan masa lalu kamu.”</p>

<p>“No! No, no, no, aku gak cinta sama sekali sama dia, kamu satu-satunya orang yang berarti di hidup aku Iko. Tolong, for the last time, believe me. Aku rela berkorban apa aja demi kamu, Iko.”</p>

<p>Andovy beranjak dari duduknya secepat kilat, bersimpuh di dadapan Jericho, menggenggam tangannya erat sambil menangis di sana. Sungguh ia tak ingin kehilangan kecintaannya.</p>

<p>“Apa yang bisa dia kasih tapi aku enggak, Vy?”</p>

<p>Tak ada jawaban, hanya isakan Andovy serta gelengan ribut yang ia dapatkan sementara tangannya semankin erat digenggam.</p>

<p>“Anak?”</p>

<p>“No! I don&#39;t give a shit about that, I love you, dan itu cukup buat aku!” Andovy semakin frustasi.</p>

<p>“Tapi kenyataannya aku masih belum cukup untuk kamu.”</p>

<p>Kenyataan Andovy selingkuh dibelakangnya membuat dirinya begitu hancur hingga berkeping-keping,m.</p>

<p>“You know I love you, Vy-”</p>

<p>“Ya I knew it, so please just stay, I beg you, Iko. I can&#39;t love anyone else but you, please..” Isakan tangis keduanya bersahutan memenuhi ruangan ini.</p>

<p>Keduanya masih larut dalam takut selama beberapa menit hingga akhirnya satu tangan Jericho terangkat dan mendarat di atas kepala Andovy, seketika Andovy-pun menatapnya.</p>

<p>“I love you, but I&#39;m letting go-”</p>

<p>“No.. Please..” Andovy semakin gelisah di bawah sana.</p>

<p>“Aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa lagi. Setiap lihat kamu aku sakit, setiap lihat kamu aku gak bisa kendaliin pikiran aku dari hal-hal buruk. Aku gak bisa kendaliin bagaimana otakku membuat skenario ketika kamu bersama perempuan itu, ketika kamu mengkhianati aku, semuanya ada di otak aku, bayangan bagaimana kamu sama perempuan itu... Aku sakit, Vy, dan aku gak bisa.” Jericho menggelengkan kepalanya seola bayangan di pikirannya bisa hilang dengan itu.</p>

<p>“Aku gak akan bisa bersikap seperti gak terjadi apapun kedepannya kalau kita terus sama-sama dan kamu pasti akan tersiksa dengan rasa bersalah kamu. Pada akhirnya kita berdua akan terluka terus.”</p>

<p>“Gak, gak, Iko. Aku yakin itu gak akan terjadi. Aku gak akan bisa tanpa kamu, aku gak tau apa jadinya aku kalau kamu pergi dari hidup aku. Aku mohon jangan tinggalin aku. Apapun akan aku lakuin, asal kamu gak tinggalin aku.”</p>

<p>“Hidup kamu akan terus berjalan, dengan atau tanpa aku.”</p>

<p>Jericho menarik tangannya dari genggaman Andovy lalu menyeka air mata yang membanjiri wajah lelaki tersebut. Menatap Andovy dengan penuh cinta sekaligus rasa sakit yang tak terbendung.</p>

<p>“I love you, Ovy, I really do. Kamu harus tetep hidup untuk dirimu sendiri, ya? Setelah ini jangan pernah cari aku, kamu harus hidup dengan baik. Jangan lupa baikan juga sama Diora, hehe. Dia temen yang baik, jangan sampai kamu kehilangan dia seperti kamu kehilangan aku.” Jericho berusaha berbicara sehalus mungkin untuk menenangkan Andovy yang semakin kalut.</p>

<p>Andovy benar-benar tak sanggup berbicara sepatah katapun, ia terisak semakin hebat di hadapan Jericho. Dan setelah itu Jericho bangkit dari duduknya.</p>

<p>“Aku pergi ya.” Jericho melangkahkan kakinya menjauh dari cintanya, menjauh dari alasannya hidup dengan langkah gontai yang sebetulnya berat.</p>

<p>Keinginan untuk berbalik dan berlari ke pelukan lelaki itu sangat besar, keinginan untuk mengucapkan kata <em>&#39;Aku gak apa-apa&#39;</em> dan <em>&#39;Kita mulai dari awal lagi, ya?&#39;</em> Ingin sekali ia utarakan. Namun ia tahu, hati yang sakit jika dipaksakan untuk terus memeluk tidak akan indah akhirnya. Jadi ia memutuskan untuk melepas pelukan itu dan menyembuhkan hatinya sendirian.</p>

<p>Jericho keluar dari ruang itu dan menutup pintu tersebut, baru beberapa langkah ia menjauh, sebuah suara memanggilnya.</p>

<p>“Iko?”</p>

<p>“Van...” Tangisnya kembali pecah di lorong cafe ketika melihat Revan di depannya.</p>

<p>“Hey, I&#39;m here.” Tanpa pikir panjang Revan langsung memeluk Jericho dengan erat. Diusapnya punggung bergetar itu untuk menenangkan temannya.</p>

<p>“Gue anter pulang ya?”</p>

<p>Jericho hanya mengangguk, karena tenaganya sudah habis. Ia juga tidak bisa pulang bersama Andovy kan?</p>

<p>Seseorang yang kini menjadi mantan kekasihnya.</p>

<p>—</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://achaistyping.writeas.com/the-last</guid>
      <pubDate>Mon, 13 May 2024 13:46:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Orang Lain.</title>
      <link>https://achaistyping.writeas.com/orang-lain?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Orang Lain.&#xA;&#xA;Andovy baru saja memasuki parkiran dan memarkirkan mobilnya di deretan paling pojok, tempatnya biasa parkir. Ia mengambil semua barang-barang yang diperlukan untuk pekerjaannya nanti, terakhir Andovy memakai jam tangan mahalnya lalu beranjak keluar dari mobil.&#xA;&#xA;Hatinya ringan, senyum merekah lebar, ia pikir sudah saatnya ia bangkit setelah semuanya yang terjadi.&#xA;&#xA;&#34;Andovy!&#34;&#xA;&#xA;Andovy menghentikan langkahnya ketika sebuah tangan menggenggam lengannya. Nayla yang datang entah dari mana, memeluk lengan Andovy dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.&#xA;&#xA;&#34;Nayla?? Ngapain kamu di sini?&#34; Setelah melihat Nayla, Andovy langsung menepis lengannya, membuat Nayla sedikit terdorong beberapa langkah.&#xA;&#xA;&#34;Aku di sini buat buktiin kalau yang selalu ada buat kamu itu aku, bukan Jericho.&#34; Ucap Nayla tak tahu malu, membuat Andovy memutar bola matanya. Baru saja ia merasa bebannya hilang, tapi ternyata perempuan ini masih menghantuinya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngerti kata udahan gak? Kita udah selesai, aku udah nurutin semua permintaan kamu selama sebulan ini, jadi kamu harus tepatin janji kamu buat pergi dari hidup aku.&#34; Andovy masih menahan suaranya agar tak terlalu tinggi dan memancing perhatian orang-orang yang mungkin saja ada di sini.&#xA;&#xA;&#34;Enggak, aku gak mau, Vy. See? Cuma aku di sini, nemenin kamu bangkit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sick kamu.&#34; Andovy menggelengkan kepalanya lalu mundur beberapa langkah untuk menjauhi Nayla.&#xA;&#xA;Nayla menggigit bibirnya, mencari cara untuk menekan Andovy kembali. Dan ketika ia melihat sesuatu, ia tersenyum lebar.&#xA;&#34;Aku juga gak akan begini kalau kamu gak kasih aku harapan, Ovy! Kemarin kamu dateng ke aku, kamu yang kejar. Bahkan kamu selalu lindungin aku, you were the one who asked me to not leaving you anymore, you were even at my place every night, Ovy. Sekarang kamu minta aku pergi setelah semuanya?&#34;&#xA;&#xA;Nayla memandang Andovy dengan wajah sedihnya, matanya bahkan mulai berkaca-kaca. &#34;Kamu buat aku mikir kalau kita masih mungkin, kamu yakinin aku buat nunggu kamu selesain semuanya sama Jericho, balikin nama kamu dan kembali sama aku lagi. Dan sekarang tiba-tiba kamu buang aku? Jahat kamu!&#34; Sambung Nayla sambil menangis.&#xA;&#xA;Andovy kini frustasi, mengusap wajahnya dengan kasar sambil menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun.&#xA;&#34;Ngomong apasih?! Enough, Nay!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Brengsek lo!&#34;&#xA;-PLAK-&#xA;&#xA;Sebuah tamparan telah mendarat keras di pipinya sebelum ia menoleh dengan sempurna ke hadapan orang lain yang berteriak.&#xA;&#xA;&#34;Gue gak tau lo bisa sebangsat ini, Vy!&#34; Diora kembali memaki Andovy sambil menunjuk dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Ra, Ra gue bisa jelasin, ini gak kayak yang lo liat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak kayak yang gue liat? Gue liat semuanya dari awal, Vy. Gue denger apa yang udah lo lakuin sama perempuan sinting ini di belakan Iko.&#34; Diora sangat amat marah, dan Andovy tahu kalau ini semua akan makin berantakan.&#xA;&#xA;&#34;Dia bohong, Ra. Gue gak kayak gitu!&#34; Andovy berusaha menjelaskan namun Diora memotong perkataannya.&#xA;&#xA;&#34;Jahat lo! Iko khawatir tiap hari, Iko nunggu kabar lo sampe ngehubungin temen-temen lo, Iko mati-matian buat percaya kalau lo gak ngapa-ngapain di belakan dia, tapi ternyata lo selingkuh sama mantan lo. Mantan yang udah ninggalin lo di titik terendah lo. Bangsat!&#34;&#xA;&#xA;Diora memandang marah ke arah Andovy dan Nayla, sementara Nayla hanya tersenyum sambil melipat tangannya di depan dada. &#39;Bagus, marah terus, pojokin Ovy, kalau perlu langsung bilang ke Iko Iko itu tentang gue dan Ovy. Dengan gitu Ovy bakal tau siapa yang bener-bener selalu ada buat dia sekarang.&#39;&#xA;&#xA;&#34;Kalau lo udah gak ada rasa sama Iko, putusin, anjing! Jangan mainin anak orang begini!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue bisa jelasin, Ra!&#39;&#xA;&#xA;&#34;Apa? jelasin apa?! Jelasin kalo lo sama dia udah balikan?! Bukan ke gue, Vy. Lo harusnya ngomong ke Iko, lo harus jelasin semua ke Iko tentang perselingkuhan lo ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rencananya emang Ovy mau jelasin semua ke Iko, kok. Dia bakal putusin Iko dan balik lagi sama gue.&#34; Ucap Nayla dan membuat mata Andovy melebar.&#xA;&#xA;&#34;Oh bagus kalo gitu! Selamat ya mba perusak hubungan orang! Lo berhasil, Kalian adalah pasangan paling match sedunia. Pengkhianat dan pengkhianat, sakit lo berdua.&#34; Ucap Diora sambil menunjuk keduanya sebelum berjalan pergi meninggalkan Andovy dan Nayla.&#xA;&#xA;Keadaan basement sudah ramai oleh para karyawan yang bekerja di sini. Pertengkaran mereka tadi mengundang semua orang datang lalu merekam mereka. Andovy kembali mengusak wajahnya kasar dan berteriak keras sampai mengagetkan Nayla.&#xA;&#xA;&#34;Ra! Diora!&#34; Andovy berlari meninggalkan Nayla untuk menyusul Diora yang sudah tak terlihat lagi, sedangkan Nayla tersenyum puas lalu membuka ponselnya, memeriksa sosial media, memantau berita dirinya dan Andovy hari ini.&#xA;&#xA;&#34;Semuanya berjalan sesuai rencana gue.&#34;&#xA;&#xA;—]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="orang-lain" id="orang-lain">Orang Lain.</h2>

<p>Andovy baru saja memasuki parkiran dan memarkirkan mobilnya di deretan paling pojok, tempatnya biasa parkir. Ia mengambil semua barang-barang yang diperlukan untuk pekerjaannya nanti, terakhir Andovy memakai jam tangan mahalnya lalu beranjak keluar dari mobil.</p>

<p>Hatinya ringan, senyum merekah lebar, ia pikir sudah saatnya ia bangkit setelah semuanya yang terjadi.</p>

<p>“Andovy!”</p>

<p>Andovy menghentikan langkahnya ketika sebuah tangan menggenggam lengannya. Nayla yang datang entah dari mana, memeluk lengan Andovy dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.</p>

<p>“Nayla?? Ngapain kamu di sini?” Setelah melihat Nayla, Andovy langsung menepis lengannya, membuat Nayla sedikit terdorong beberapa langkah.</p>

<p>“Aku di sini buat buktiin kalau yang selalu ada buat kamu itu aku, bukan Jericho.” Ucap Nayla tak tahu malu, membuat Andovy memutar bola matanya. Baru saja ia merasa bebannya hilang, tapi ternyata perempuan ini masih menghantuinya.</p>

<p>“Kamu ngerti kata udahan gak? Kita udah selesai, aku udah nurutin semua permintaan kamu selama sebulan ini, jadi kamu harus tepatin janji kamu buat pergi dari hidup aku.” Andovy masih menahan suaranya agar tak terlalu tinggi dan memancing perhatian orang-orang yang mungkin saja ada di sini.</p>

<p>“Enggak, aku gak mau, Vy. See? Cuma aku di sini, nemenin kamu bangkit.”</p>

<p>“Sick kamu.” Andovy menggelengkan kepalanya lalu mundur beberapa langkah untuk menjauhi Nayla.</p>

<p>Nayla menggigit bibirnya, mencari cara untuk menekan Andovy kembali. Dan ketika ia melihat sesuatu, ia tersenyum lebar.
“Aku juga gak akan begini kalau kamu gak kasih aku harapan, Ovy! Kemarin kamu dateng ke aku, kamu yang kejar. Bahkan kamu selalu lindungin aku, you were the one who asked me to not leaving you anymore, you were even at my place every night, Ovy. Sekarang kamu minta aku pergi setelah semuanya?”</p>

<p>Nayla memandang Andovy dengan wajah sedihnya, matanya bahkan mulai berkaca-kaca. “Kamu buat aku mikir kalau kita masih mungkin, kamu yakinin aku buat nunggu kamu selesain semuanya sama Jericho, balikin nama kamu dan kembali sama aku lagi. Dan sekarang tiba-tiba kamu buang aku? Jahat kamu!” Sambung Nayla sambil menangis.</p>

<p>Andovy kini frustasi, mengusap wajahnya dengan kasar sambil menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun.
“Ngomong apasih?! Enough, Nay!”</p>

<p>“Brengsek lo!”
-PLAK-</p>

<p>Sebuah tamparan telah mendarat keras di pipinya sebelum ia menoleh dengan sempurna ke hadapan orang lain yang berteriak.</p>

<p>“Gue gak tau lo bisa sebangsat ini, Vy!” Diora kembali memaki Andovy sambil menunjuk dirinya.</p>

<p>“Ra, Ra gue bisa jelasin, ini gak kayak yang lo liat.”</p>

<p>“Gak kayak yang gue liat? Gue liat semuanya dari awal, Vy. Gue denger apa yang udah lo lakuin sama perempuan sinting ini di belakan Iko.” Diora sangat amat marah, dan Andovy tahu kalau ini semua akan makin berantakan.</p>

<p>“Dia bohong, Ra. Gue gak kayak gitu!” Andovy berusaha menjelaskan namun Diora memotong perkataannya.</p>

<p>“Jahat lo! Iko khawatir tiap hari, Iko nunggu kabar lo sampe ngehubungin temen-temen lo, Iko mati-matian buat percaya kalau lo gak ngapa-ngapain di belakan dia, tapi ternyata lo selingkuh sama mantan lo. Mantan yang udah ninggalin lo di titik terendah lo. Bangsat!”</p>

<p>Diora memandang marah ke arah Andovy dan Nayla, sementara Nayla hanya tersenyum sambil melipat tangannya di depan dada. <em>&#39;Bagus, marah terus, pojokin Ovy, kalau perlu langsung bilang ke Iko Iko itu tentang gue dan Ovy. Dengan gitu Ovy bakal tau siapa yang bener-bener selalu ada buat dia sekarang.&#39;</em></p>

<p>“Kalau lo udah gak ada rasa sama Iko, putusin, anjing! Jangan mainin anak orang begini!”</p>

<p>“Gue bisa jelasin, Ra!&#39;</p>

<p>“Apa? jelasin apa?! Jelasin kalo lo sama dia udah balikan?! Bukan ke gue, Vy. Lo harusnya ngomong ke Iko, lo harus jelasin semua ke Iko tentang perselingkuhan lo ini.”</p>

<p>“Rencananya emang Ovy mau jelasin semua ke Iko, kok. Dia bakal putusin Iko dan balik lagi sama gue.” Ucap Nayla dan membuat mata Andovy melebar.</p>

<p>“Oh bagus kalo gitu! Selamat ya mba perusak hubungan orang! Lo berhasil, Kalian adalah pasangan paling match sedunia. Pengkhianat dan pengkhianat, sakit lo berdua.” Ucap Diora sambil menunjuk keduanya sebelum berjalan pergi meninggalkan Andovy dan Nayla.</p>

<p>Keadaan basement sudah ramai oleh para karyawan yang bekerja di sini. Pertengkaran mereka tadi mengundang semua orang datang lalu merekam mereka. Andovy kembali mengusak wajahnya kasar dan berteriak keras sampai mengagetkan Nayla.</p>

<p>“Ra! Diora!” Andovy berlari meninggalkan Nayla untuk menyusul Diora yang sudah tak terlihat lagi, sedangkan Nayla tersenyum puas lalu membuka ponselnya, memeriksa sosial media, memantau berita dirinya dan Andovy hari ini.</p>

<p>“Semuanya berjalan sesuai rencana gue.”</p>

<p>—</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://achaistyping.writeas.com/orang-lain</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Mar 2024 14:39:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kalea, dan Cerita.</title>
      <link>https://achaistyping.writeas.com/kalea-dan-cerita?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kalea, dan Cerita.&#xA;02:43 PM Gavin&#39;s house&#xA;&#xA;Ding Dong&#xA;&#xA;Terdengar langkah kaki yang berlari kecil menuju sebuah pintu besar berwarna putih, Kalea dengan senyum lebarnya menyambut Fillio setelah ia membukakan pintu besar tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Waaww, kakak! You&#39;re cuter than your photo!!&#34;&#xA;&#xA;Begitu lah Kalea menyambut Fillio. Kalea siperiang sepupu dari Gavin, yang tentu saja baru kali pertama bertemu dengan Fillio.&#xA;&#xA;&#34;Tas nya ada di kamar kak Gavin katanya. Kakak boleh masuk dan cari sendiri. Tapi aku ikut yaa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haha kamu gemes banget. Boleh dong.&#34;&#xA;&#xA;Kalea dan Fillio berjalan menuju kamar Gavin dan langsung saja Fillio mencari bukunya di dalam tas tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Kentemu, kak?&#34; Tanya Kalea yang sudah duduk di atas kasur.&#xA;&#xA;&#34;Nih, hehe.&#34; Fillio menjawab sambil mengangkat bukunya.&#xA;&#xA;Setelah merapihkan kembali barang-barang milik Gavin, Fillio-pun ikut duduk di samping Kalea.&#xA;&#xA;&#34;Kalea tau gak Gavin pergi kemana?&#34;&#xA;&#xA;Kalea menoleh ketika Fillio bertanya padanya.&#xA;&#xA;&#34;Lohh kirain kakak tauu. Kakak gak nanya sendiri sama kak Gavin?&#34; Kalea balik bertanya dan dijawab gelengan oleh Fillio.&#xA;&#xA;&#34;Gak sempet nanya tadi, buru-buru mau ke sini ambil buku soalnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Gavin keluar mau beli gitar katanyaa.&#34;&#xA;&#xA;Jawaban dari Kalea membuat Fillio termenung, &#39;Kok Gavin gak minta ditemenin gue ya..&#39; Ucapnya dalam hati.&#xA;&#xA;&#34;Katanya dia mau nyanyi buat orang yang dia suka pakai gitar ituuu.&#34; Sambung Kalea.&#xA;&#xA;Pikiran Fillio makin berisik. Orang yang disuka? Siapa? Kenapa ia tak tahu jika Gavin sedang menyukai seseorang?&#xA;&#xA;Ah, harusnya Fillio tak usah memikirkan ini, bukankah ini yang ia mau? Fillio mau Gavin menemukan kebahagiaannya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Kalea tau gak siapa yang Gavin suka?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Memangnya kak Fillio gak tauuu?&#34; Ucap Kalea dengan sengaja menggoda Fillio dengan mengadukan kedua pundak mereka, dan lagi-lagi Fillio menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Kalea tau sih kakk, cuma Kalea udah janji sama kak Gavin buat gak kasih tau ke siapa-siapa.&#34;&#xA;&#xA;Fillio-pun mengangguk mendengarnya. Ya memang tak seharusnya ia mencampuri urusan asmara teman kecilnya ini.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Kalea akan kasih tau ciri-cirinya. Dia baik, putih!! Tinggi, ada tahi lalatnya di hidung, rambutnya hitam, lucu banget kak, manis.&#34;&#xA;&#xA;Kalea mendeskripsikan orang yang disukai Gavin dengan semangat.&#xA;&#xA;&#34;Udah pernah ketemu?&#34; Tanya Fillio.&#xA;&#xA;Kalea mengangguk semangat lagi sambil menjawab, &#34;Udah!&#34;&#xA;&#xA;&#39;Oh.. Udah sejauh itu yah, udah dikenalin ke keluarganya, aku aja baru ketemu Kalea hari ini.&#34;&#xA;&#xA;Fillio tersenyum lalu beranjak dari duduknya untuk pamit pulang karena ada banyak tugas yang masih harus ia kerjakan.&#xA;&#xA;&#34;Dadah kaakkk. Nanti main lagi yahh.&#34; Kalea melambaikan tangannya mengantar Fillio pergi.&#xA;&#xA;—]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="kalea-dan-cerita" id="kalea-dan-cerita">Kalea, dan Cerita.</h2>

<p><em>02:43 PM Gavin&#39;s house</em></p>

<p><em>Ding Dong</em></p>

<p>Terdengar langkah kaki yang berlari kecil menuju sebuah pintu besar berwarna putih, Kalea dengan senyum lebarnya menyambut Fillio setelah ia membukakan pintu besar tersebut.</p>

<p>“Waaww, kakak! You&#39;re cuter than your photo!!”</p>

<p>Begitu lah Kalea menyambut Fillio. Kalea siperiang sepupu dari Gavin, yang tentu saja baru kali pertama bertemu dengan Fillio.</p>

<p>“Tas nya ada di kamar kak Gavin katanya. Kakak boleh masuk dan cari sendiri. Tapi aku ikut yaa.”</p>

<p>“Haha kamu gemes banget. Boleh dong.”</p>

<p>Kalea dan Fillio berjalan menuju kamar Gavin dan langsung saja Fillio mencari bukunya di dalam tas tersebut.</p>

<p>“Kentemu, kak?” Tanya Kalea yang sudah duduk di atas kasur.</p>

<p>“Nih, hehe.” Fillio menjawab sambil mengangkat bukunya.</p>

<p>Setelah merapihkan kembali barang-barang milik Gavin, Fillio-pun ikut duduk di samping Kalea.</p>

<p>“Kalea tau gak Gavin pergi kemana?”</p>

<p>Kalea menoleh ketika Fillio bertanya padanya.</p>

<p>“Lohh kirain kakak tauu. Kakak gak nanya sendiri sama kak Gavin?” Kalea balik bertanya dan dijawab gelengan oleh Fillio.</p>

<p>“Gak sempet nanya tadi, buru-buru mau ke sini ambil buku soalnya.”</p>

<p>“Kak Gavin keluar mau beli gitar katanyaa.”</p>

<p>Jawaban dari Kalea membuat Fillio termenung, <em>&#39;Kok Gavin gak minta ditemenin gue ya..&#39;</em> Ucapnya dalam hati.</p>

<p>“Katanya dia mau nyanyi buat orang yang dia suka pakai gitar ituuu.” Sambung Kalea.</p>

<p>Pikiran Fillio makin berisik. Orang yang disuka? Siapa? Kenapa ia tak tahu jika Gavin sedang menyukai seseorang?</p>

<p>Ah, harusnya Fillio tak usah memikirkan ini, bukankah ini yang ia mau? Fillio mau Gavin menemukan kebahagiaannya sendiri.</p>

<p>“Kalea tau gak siapa yang Gavin suka?”</p>

<p>“Memangnya kak Fillio gak tauuu?” Ucap Kalea dengan sengaja menggoda Fillio dengan mengadukan kedua pundak mereka, dan lagi-lagi Fillio menggeleng.</p>

<p>“Kalea tau sih kakk, cuma Kalea udah janji sama kak Gavin buat gak kasih tau ke siapa-siapa.”</p>

<p>Fillio-pun mengangguk mendengarnya. Ya memang tak seharusnya ia mencampuri urusan asmara teman kecilnya ini.</p>

<p>“Tapi Kalea akan kasih tau ciri-cirinya. Dia baik, putih!! Tinggi, ada tahi lalatnya di hidung, rambutnya hitam, lucu banget kak, manis.”</p>

<p>Kalea mendeskripsikan orang yang disukai Gavin dengan semangat.</p>

<p>“Udah pernah ketemu?” Tanya Fillio.</p>

<p>Kalea mengangguk semangat lagi sambil menjawab, “Udah!”</p>

<p><em>&#39;Oh.. Udah sejauh itu yah, udah dikenalin ke keluarganya, aku aja baru ketemu Kalea hari ini.”</em></p>

<p>Fillio tersenyum lalu beranjak dari duduknya untuk pamit pulang karena ada banyak tugas yang masih harus ia kerjakan.</p>

<p>“Dadah kaakkk. Nanti main lagi yahh.” Kalea melambaikan tangannya mengantar Fillio pergi.</p>

<p>—</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://achaistyping.writeas.com/kalea-dan-cerita</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Mar 2024 11:09:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Nawa   Luna</title>
      <link>https://achaistyping.writeas.com/nawa-luna?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Nawa   Luna&#xA;04:15 PM at Luna&#39;s house&#xA;&#xA;&#34;Ahh ah ah-&#34;&#xA;&#xA;Kegiatan panas sepasang insan di dalam sebuah kamar mewah milik sang wanita yang sudah hampir satu tahun menjalin hubungan dengan kekasihnya itu semakin memanas bersamaan dengan bulir keringat yang terus menetes membasahi keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Ah yes, there Olik.. Ouh&#34; Luna terus mendesah di bawah kungkungan tubuh kekar Olik yang terus menghujamnya di bawah sana.&#xA;&#xA;Sesekali tubuh Luna mengejang ketika Olik menumbuk titik ternikmatnya lalu mempercepat genjotannya. Desahan keduanya pun bersahut-sahutan, membuat nafsu mereka semakin menggebu-gebu.&#xA;&#xA;&#34;Ah sayang, kamu cantik banget..&#34; &#xA;Olik yang memang pandai memuji itu terus saja memuja kecantikan kekasihnya. Apalagi cahaya temaram karena lampu kamar yang sengaja dimatikan dan hanya lampu tidur yang menyala di sebelahnya, menambah kesan erotis bagi mereka.&#xA;&#xA;Dan ketika Luna berteriak, Olik tahu jika kekasihnya akan &#39;keluar&#39; sebentar lagi. Olik menambah kecepatannya, menikmati keindahan Luna ketika ia mengejang dan mengeluarkan seluruh cairannya, disusul Olik yang mengeluarkannya di dalam.&#xA;&#xA;Tenang, mereka selalu memakai pengaman jika sedang bercinta.&#xA;&#xA;&#34;Capek, sayang?&#34; Olik merapihkan helaian rambut panjang Luna yang menutupi wajahnya lalu mengecup bibirnya sebelum merapihkan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Capek, tapi enak, hehehe.&#34; tawa Luna.&#xA;&#xA;Kekehan kecil juga keluar dari bibir tebal Olik.&#xA;&#xA;Setelah keduanya merasa cukup bersih, Olik kembali berbaring dan memeluk Luna dengan erat.&#xA;&#xA;Keduanya hampir terjatuh tidur ketika sebuah suara notifikasi ponsel Olik berbunyi beberapa kali. Setelah mengambil ponsel dan membaca isi pesannya, Olik langsung beranjak dari tidurnya lalu memakai pakaiannya.&#xA;&#xA;&#34;Sayang? Kenapa?&#34; Tanya Luna kebingungan melihat Olik seperti buru-buru.&#xA;&#xA;&#34;Aku kayaknya harus pergi, sayang, Nawa lagi butuh aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kita baru aja selesai loh, masa kamu mau ninggalin aku??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, cantik. Ini mendadak dan penting banget. Nanti aku kabarin kalau urusannya udah selesai ya? Bye.&#34;&#xA;&#xA;Olik mengecup kening Luna lalu pergi meninggalkan Luna yang terlihat kesal itu.&#xA;&#xA;&#34;Nawa lagi, Nawa lagi! Keseelll.&#34;&#xA;&#xA;-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="nawa-luna" id="nawa-luna">Nawa &gt; Luna</h2>

<p><em>04:15 PM at Luna&#39;s house</em></p>

<p>“Ahh ah ah-”</p>

<p>Kegiatan panas sepasang insan di dalam sebuah kamar mewah milik sang wanita yang sudah hampir satu tahun menjalin hubungan dengan kekasihnya itu semakin memanas bersamaan dengan bulir keringat yang terus menetes membasahi keduanya.</p>

<p>“<em>Ah yes, there</em> Olik.. <em>Ouh</em>” Luna terus mendesah di bawah kungkungan tubuh kekar Olik yang terus menghujamnya di bawah sana.</p>

<p>Sesekali tubuh Luna mengejang ketika Olik menumbuk titik ternikmatnya lalu mempercepat genjotannya. Desahan keduanya pun bersahut-sahutan, membuat nafsu mereka semakin menggebu-gebu.</p>

<p>“<em>Ah</em> sayang, kamu cantik banget..”
Olik yang memang pandai memuji itu terus saja memuja kecantikan kekasihnya. Apalagi cahaya temaram karena lampu kamar yang sengaja dimatikan dan hanya lampu tidur yang menyala di sebelahnya, menambah kesan erotis bagi mereka.</p>

<p>Dan ketika Luna berteriak, Olik tahu jika kekasihnya akan &#39;keluar&#39; sebentar lagi. Olik menambah kecepatannya, menikmati keindahan Luna ketika ia mengejang dan mengeluarkan seluruh cairannya, disusul Olik yang mengeluarkannya di dalam.</p>

<p>Tenang, mereka selalu memakai pengaman jika sedang bercinta.</p>

<p>“Capek, sayang?” Olik merapihkan helaian rambut panjang Luna yang menutupi wajahnya lalu mengecup bibirnya sebelum merapihkan dirinya sendiri.</p>

<p>“Capek, tapi enak, hehehe.” tawa Luna.</p>

<p>Kekehan kecil juga keluar dari bibir tebal Olik.</p>

<p>Setelah keduanya merasa cukup bersih, Olik kembali berbaring dan memeluk Luna dengan erat.</p>

<p>Keduanya hampir terjatuh tidur ketika sebuah suara notifikasi ponsel Olik berbunyi beberapa kali. Setelah mengambil ponsel dan membaca isi pesannya, Olik langsung beranjak dari tidurnya lalu memakai pakaiannya.</p>

<p>“Sayang? Kenapa?” Tanya Luna kebingungan melihat Olik seperti buru-buru.</p>

<p>“Aku kayaknya harus pergi, sayang, Nawa lagi butuh aku.”</p>

<p>“Tapi kita baru aja selesai loh, masa kamu mau ninggalin aku??”</p>

<p>“Maaf, cantik. Ini mendadak dan penting banget. Nanti aku kabarin kalau urusannya udah selesai ya? Bye.”</p>

<p>Olik mengecup kening Luna lalu pergi meninggalkan Luna yang terlihat kesal itu.</p>

<p>“Nawa lagi, Nawa lagi! Keseelll.”</p>

<p>-</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://achaistyping.writeas.com/nawa-luna</guid>
      <pubDate>Fri, 08 Mar 2024 06:52:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bohong.</title>
      <link>https://achaistyping.writeas.com/cukup?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bohong.&#xA;&#xA;&#34;Puas?&#34;&#xA;&#xA;Andovy yang baru saja sampai itu menatap Nayla di depannya yang tersenyum lebar. Sudah bisa ditebak jika jawabannya &#39;sangat puas&#39;&#xA;&#xA;&#34;Aku kangen kamu, Ovyy.&#34; Nayla langsung memeluk Andovy dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnua di ceruk leher Andovy.&#xA;&#xA;Andovy memutar bola matanya lalu mendorong Nayla perlahan agar melepaskan pelukannya. Sudah jengkel sekali dengan kelakuan Nayla.&#xA;&#xA;Dirinya yang seharusnya berada di rumah Jericho malah berakhir di sini bersama Nayla. Ok, ini hanya agar semuanya cepat berakhir. Makin cepat Nayla pergi, makin bagus pula untuk Andovy.&#xA;&#xA;&#34;Aku udah masak masakan kesukaan kamu loh, yuk makan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku di sini cuma buat makan malam aja ya. Setelah itu aku mau pulang, masih ada urusan lain.&#34;&#xA;&#xA;Hanya ini yang Andovy bisa lakukan, menuruti permintan Nayla.&#xA;&#xA;&#34;Tapi aku mau kamu bermalam di sini juga. Temenin aku ya?&#34; Ucap Nayla sambil memeluk lebgan Andovy dan mengelus dada bidang itu.&#xA;&#xA;&#34;Gak, aku gak bisa, Nay. Aku udah bilang kan kalau ada urusan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, aku makin lama buat pergi dari hidup kamu. Aku bakal terus ada di samping kamu dan minta kamu buat terus sama aku. Kamu mau begitu?&#34;&#xA;&#xA;Andovy mengusap wajahnya kasar. Kenapa ia harus terjebak dengan wanita yang terobsesi padanya ini? Seharusnya dari awal ia tidak usah menuruti semua permintaannya.&#xA;&#xA;Namun nasi sudah menjadi bubur.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidur si sofa.&#34;&#xA;&#xA;Andovy langsung berjalan ke meja makan tanpa memperdulikan Nayla yang kegirangan.&#xA;&#xA;Dalam hatinya ia terus meminta maaf pada Jericho, kekasihnya yang entah sudah ke berapa kali ia bohongi.&#xA;&#xA;&#39;Maaf, Iko. Aku janji ini gak akan lama. Aku bakal beresin ini semua.&#39;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="bohong" id="bohong">Bohong.</h2>

<p>“Puas?”</p>

<p>Andovy yang baru saja sampai itu menatap Nayla di depannya yang tersenyum lebar. Sudah bisa ditebak jika jawabannya &#39;sangat puas&#39;</p>

<p>“Aku kangen kamu, Ovyy.” Nayla langsung memeluk Andovy dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnua di ceruk leher Andovy.</p>

<p>Andovy memutar bola matanya lalu mendorong Nayla perlahan agar melepaskan pelukannya. Sudah jengkel sekali dengan kelakuan Nayla.</p>

<p>Dirinya yang seharusnya berada di rumah Jericho malah berakhir di sini bersama Nayla. Ok, ini hanya agar semuanya cepat berakhir. Makin cepat Nayla pergi, makin bagus pula untuk Andovy.</p>

<p>“Aku udah masak masakan kesukaan kamu loh, yuk makan.”</p>

<p>“Aku di sini cuma buat makan malam aja ya. Setelah itu aku mau pulang, masih ada urusan lain.”</p>

<p>Hanya ini yang Andovy bisa lakukan, menuruti permintan Nayla.</p>

<p>“Tapi aku mau kamu bermalam di sini juga. Temenin aku ya?” Ucap Nayla sambil memeluk lebgan Andovy dan mengelus dada bidang itu.</p>

<p>“Gak, aku gak bisa, Nay. Aku udah bilang kan kalau ada urusan?”</p>

<p>“Kalau begitu, aku makin lama buat pergi dari hidup kamu. Aku bakal terus ada di samping kamu dan minta kamu buat terus sama aku. Kamu mau begitu?”</p>

<p>Andovy mengusap wajahnya kasar. Kenapa ia harus terjebak dengan wanita yang terobsesi padanya ini? Seharusnya dari awal ia tidak usah menuruti semua permintaannya.</p>

<p>Namun nasi sudah menjadi bubur.</p>

<p>“Aku tidur si sofa.”</p>

<p>Andovy langsung berjalan ke meja makan tanpa memperdulikan Nayla yang kegirangan.</p>

<p>Dalam hatinya ia terus meminta maaf pada Jericho, kekasihnya yang entah sudah ke berapa kali ia bohongi.</p>

<p><em>&#39;Maaf, Iko. Aku janji ini gak akan lama. Aku bakal beresin ini semua.&#39;</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://achaistyping.writeas.com/cukup</guid>
      <pubDate>Mon, 26 Feb 2024 07:10:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Can We Make It?</title>
      <link>https://achaistyping.writeas.com/can-we-make-it?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Can We Make It?&#xA;Wayan&#39;s house.&#xA;&#xA;Mobil yang dikendarai Jericho berhenti tepat di halaman rumah Wayan, dan saat ia turun, si kecil Kala menyambutnya.&#xA;&#xA;&#34;Om Ikoo.&#34; Seru Kala sambil berlari memeluk Jericho.&#xA;&#xA;&#34;Halo Kala, apa kabar?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baikk, om Iko kesini mau ketemu sama om Ovy yaa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kala, om Iko nya suruh masuk dulu. Masa ngobrol di luar.&#34; Naura yang berdiri di depan pintu pun bersuara.&#xA;&#xA;&#34;Hehehee, iya maah. Ayo om kita masuk!&#34;&#xA;&#xA;Jericho hanya mengangguk dan tersenyum lalu mengikuti langkah Kala yang sudah lebih dulu memasuki rumahnya.&#xA;&#xA;&#34;Mba kira kamu udah gak mau kesini lagi.&#34; Ucap Naura setelah keduanya duduk di ruang tengah.&#xA;&#xA;&#34;Maaf mba. Sebenernya hubungan aku sama Ovy sempet gak baik. Pas aku mau ke sini juga masih banyak wartawan, jadi aku nunggu biar agak sepi dulu.&#34;&#xA;&#xA;Sebetulnya Jericho juga merasa bersalah karena tak datang lebih cepat. Namun keadaan juga memaksanya untuk diam ditempat.&#xA;&#xA;&#3